BerandaBeritaKelestarian Alam, Ketangguhan Ekologi dan Kemandirian Ekonomi Leuwikeris Hejo

Kelestarian Alam, Ketangguhan Ekologi dan Kemandirian Ekonomi Leuwikeris Hejo

TRISULA.ORG|TASIKMALAYA

Program Akselerasi Restorasi Lahan Terintegrasi Berkelanjutan Leuwikeris Hejo
Dalam Kerangka Pembangunan Ekonomi Kerakyatan (Bagian satu).

Oleh:
Dr. Edy Suroso, S.E., M.Si. dan Dr. Muhamad Nurdin Yusuf, S.E., M.P.

Pembangunan adalah suatu proses perubahan di berbagai bidang kehidupan yang dilakukan secara sengaja berdasarkan suatu perencanaan tertentu. Pembangunan nasional di Indonesia, misalnya merupakan suatu proses perubahan berdasarkan rencana tertentu, dengan sengaja, dan memang dikehendaki baik oleh pemerintah yang menjadi pelopor pembangunan maupun masyarakat dengan tujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat, baik secara material maupun spiritual (Soekanto, 2012; Riyadi dan Bratakusumah, 2005).

Salah satu pembangunan infrastruktur adalah investasi di bidang sumber daya seperti waduk atau bendungan. Menurut Sumaryoto (2010), infrastruktur memiliki peran yang sangat penting dalam sistem perekonomian, hal ini mengandung arti semakin baik keadaan infrastruktur maka semakin baik pula pengaruhnya terhadap perekonomian. Begitu juga dengan pembangunan bendungan, Fadli dkk (2019) bendungan sangat dibutuhkan dalam mendukung program ketahanan pangan nasional yang merupakan dasar bagi ketahanan ekonomi.

Semua kegiatan pembangunan pada dasarnya menimbulkan dampak positif (menguntungkan) maupun dampak negatif (merugikan) baik terhadap ekonomi, sosial, maupun lingkungan. Untuk meminimalisir dampak negatif dari pembangunan yang dilaksanakan maka digunakanlah konsep pembangunan perkelanjutan (sustaibale development).

Konsep pembangunan berkelanjutan pada prinsipnya menyatakan bahwa pembangunan generasi sekarang jangan sampai memerlukan kompromi dari generasi yang akan datang melalui pengorbanan mereka dalam bentuk kesejahteraan sosial yang lebih rendah daripada kesejahteraan generasi saat ini. Kesejahteaan sosial di sini adalah kesejahteraan ekonomi, kesejahteraan sosial yang mencakup kesehatan dan pendidikan, serta kesejahteraan lingkungan.

Menurut Suparmoko (2020) pilar-pilar pembangunan berkelanjutan tersebut berupa berkelanjutan secara ekonomi, sosial, dan lingkungan, yang ketiganya harus berjalan secara seimbang sehingga pembangunan yang dilaksanakan tidak lagi terjebak pada model pembangunan konvensional yang menekankan pertumbuhan ekonomi saja dan meninggalkan pembangunan sosial dan lingkungan. Berdasarkan hal tersebut menurut Hadad (2010) keberhasilan pembangunan berkelanjutan mempersyaratkan perlunya modal sosial yang mampu memelihara hubungan kerja sama yang baik antar berbagai lembaga pemerintah baik vertikal maupun horisontal, serta diperlukan pula sinergi antara pemerintah, pihak swasta dan masyarakat dengan pendekatan multi pihak dari ketiga kelompok tersebut dalam penyusunan rencana dan kebijakan pembangunan yang berwawasan lingkungan.

Pada hakekatnya setiap pembangunan yang dilaksanakan memberikan dampak baik positif maupun negatif. Begitu juga dengan pembangunan Bendungan Leuwikeris yang tentunya menimbulkan pro dan kontra sebagai akibat adanya dampak positif dan negatif terhadap sosial, ekonomi dan biodiversivitas.

Dampak sosial dapat terjadi karena keinginan manusia untuk menyesuaikan diri dengan keadaan sekelilingnya ataupun disebabkan oleh ekologi, dimana masalah perubahan sosial merupakan produk dari interaksi banyak faktor (Kusumaningrum dkk, 2015).

Dampak ekonomi dapat berupa perubahan mata pencaharian sehingga menuntut masyarakat terdampak untuk melakukan adaptasi sesuai dengan sumber daya yang ada untuk mampu bertahan hidup (Soekanto, 2005). Sementara itu dampak biodiversivitas merupakan istilah yang menerangkan keanekaragaman, variabilitas, dan keunikan gen, spesies dan ekosistem dari mahluk hidup. Menurut Bappenas (2003) Indonesia dikenal sebagai salah satu mega center keanekaragaman hayati dunia karena keberagaman habitat alaminya, kekayaan tumbuhan dan hewan serta banyaknya jumlah spesies endemik.

Hasil penelitian Mustika dan Asyiawati (2017) dan Fadli dkk (2019) menunjukkan bahwa pembangunan Waduk Jatigede belum memberikan manfaat terhadap terhadap masyarakat sekitar yang disebabkan belum optimalnya pemanfaatan waduk untuk mendukung pertanian masyarakat. Hal ini mengandung arti bahwa pembangunan Waduk Jatigede juga memberikan dampak sosial dan ekonomi. Dampak sosial berupa penurunan jumlah rumah permanen dan perubahan tradisi atau kebiasaan masyarakat, sementara dampak ekonomi berupa perubahan mata pencaharian yang menyebabkan terjadinya penurunan pendapatan masyarakat.

Pembangunan proyek bendungan pada awalnya dapat menyebabkan rusaknya struktur tanah sebagai akibat kegiatan penggalian dan penimbunan. Secara umum kegiatan pengalian dapat mengakibatkan penurunan struktur muka tanah dan vegetasi. Permukaan tanah (top soil) yang ditempatkan di daerah pembuangan berpotensi mengakibatkan masalah penggunaan lahan, seperti longsor, perubahan bentuk batuan, serta ketidakstabilan lereng. Sebagai salah satu dampak eksplisit penurunan permukaan dapat menyebabkan perubahan struktur permukaan lahan dan vegetasi yang mempengaruhi penggunaan lahan permukaan dan lanskap (Zhang et al., 2011).

Pemanfaatan lahan sekitar melalui kegiatan penghijauan ini mencakup kegiatan perbaikan tingkat kesuburan tanah dan perbaikan kualitas air bendungan. Selain pemandangan alam, lokasi bendungan juga dapat dimanfaatkan karena kondisi alam sekitar bendungan tersebut memiliki struktur lanskap yang baik, seperti tebing curam dan lahan yang telah hijau dari kegiatan penghijauan. Hal ini menjadikan salah satu alasan untuk memanfaatkan area sekitar bendungan yang cukup potensial untuk dimanfaatkan lanskap sebagai area wisata alam.

Lanskap merupakan media dasar suatu perencanaan pengembangan wisata alam yaitu kegiatan wisata dengan melakukan perjalan di alam dan tidak melakukan perusakan dengan tujuan spesifik mempelajari, menikmati dan menikmati pemandangan (tumbuhan, hewan dan budaya) (Dewi, 2011). Oleh karena itu dalam melakukan perencanaan kawasan bentang alam perlu diinventarisasi berbagai data dan informasi sifat dan gejala unsurnya, termasuk tata alam di sekitar kawasan tersebut.

Pendekatan perencanaan lanskap menjadi kawasan wisata alam sangat potensial dalam meningkatkan kualitas dan menjaga kelestarian lingkungan kawasan. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Ross dan Wall (1999) bahwa wisata alam diharapkan dapat membantu untuk mencapai keseimbangan antara konservasi dan pembangunan berkelanjutan.

Berdasarkan upaya reklamasi dan revegetasi pada lahan bekas galian yang telah dilakukan diperlukan perencanaan lanskap yang dapat mengoptimalkan pemanfaatan lahan untuk mendukung keberlanjutan ekosistem, pelestarian dan perlindungan lingkungan yang dapat memberikan kontribusi ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat sekitar daerah bendungan.

Maka dari itu perlu dilakukan upaya-upaya konservasi dalam kontek pembangunan berkelanjutan untuk meminimalisir ekses negatif dari pembangunan yang telah dilaksanakan.(Red/LKH)

ARTIKEL TERKAIT

BERITA POPULER

AKURAT & TERPERCAYA