BerandaNasionalHarlah Pancasila Harimau Majapahit Giat Cinta Tanah Air Sungkem Ibu Pertiwi

Harlah Pancasila Harimau Majapahit Giat Cinta Tanah Air Sungkem Ibu Pertiwi

 

• Kirap Pancasila dengan Pasukan Gulo Klopo.
• Tabur 10.000 bibit ikan berbagai jenis di kali Kromong Sajen Pacet

 

TRISULA.ORG|Mojokerto – Memanfaatkan momentum sakral hari lahirnya Dasar Negara Republik Indonesia Pancasila 1 Juni kemarin Hari Selasa 1 Juni 2021. DPP Harimau Majapahit menggelar kegiatan yang diberi nama Cinta Tanah Air Sungkem Ibu Pertiwi.

Kegiatan Cinta Tanah Air Sungkem Ibu Pertiwi tersebut diikuti puluhan anggota Harimau Majapahit berseragam hitam-hitam kaos Harimau Majapahit, dipimpin oleh sang Ketum Gus Karen dan Pembina Mbah Jito (Moerjito).

Sengaja kegiatan itu diberi nama Cinta Tanah Air Sungkem Ibu Pertiwi karena melihat kenyataan saat ini bahwa anak bangsa Indonesia ini luntur, ngambang dan gak jelas Nasionalismenya.

“Nama kegiatan ini Cinta Tanah Air Sungkem Ibu Pertiwi karena melihat keadaan saat ini bahwa anak bangsa kita cinta tanah airnya ngambang. Sehingga perlu dikembalikan lagi, disucikan lagi atau dimurnikan lagi “, jelas Mbah Jito.

Kegiatan tersebut diselenggarakan tepat tanggal 1 Juni hari lahirnya Dasar Negara Pancasila karena Pancasila merupakan wujud atau kristalisasi Budaya luhur Bangsa Indonesia.

“Kegiatan diselenggarakan pada hari Selasa tanggal 1 Juni bertepatan dengan lahirnya Pancasila. Karena merupakan tonggak sejarah lahirnya nilai-nilai luhur budaya yang ada pada bangsa kita ini yang dikonstruksikan dalam Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia Pancasila”, kata Mbah Jito.

Mbah Jito kemudian menjelaskan bahwa kegiatan Cinta Tanah Air Sungkem Ibu Pertiwi ini diisi dengan berbagai bentuk kegiatan yang dilaksanakan secara runtut dan berantai. Antara lain :
Berangkat jam 10.00 WIB, pagi dari kantor DPP Harimau Majapahit jalan Raya Sajen Pecet Mojokerto.

Di kantor DPP Harimau Majapahit :
– Menyanyikan Lagu Indonesia Raya dengan Patrap.
– Pembacaan Teks Pancasila tanpa melihat teks. Lanjut menuju Balai Desa Sajen.
– Kirap Pancasila dengan Pasukan Gulo Klopo Bendera Merah Putih, Umbul-umbul Merah Putih dan Bendera Harimau Majapahit dari Balai Desa Sajen Pacet merupakan tlatah. Diberangkatkan oleh pangarso projo yaitu Kepala Desa Sajen Syaiful menuju ke Punden Mbah Darmo/Darmi. Sambil menyanyikan lagu-lagu Nasional dan Shalawat Nabi.
– Berdoa di Punden Mbah Darmo/Darmi.
– Pembacaan Ikrar Pancasila
Terus menuju Kali Kromong di Desa Sajen.
Di kali Kromong :
– Pembacaan Puisi Cinta Tanah Air Nyanyian Ibu Pertiwi oleh Mbah Jito.
– Pencucian Garuda Pancasila. (Ruwat Pancasila).
– Tabur 10.000 bibit ikan berbagai jenis Nila, lele dll.

Masih kata Mbah Jito. Kegiatan ini menitikberatkan kepada makna, masuknya nilai-nilai luhur budaya bangsa kedalam jiwa dan masuknya energi positf nilai-nilai luhur budaya bangsa kedalam jiwa raga anak bangsa, putro wayah Majapahit atau Dharma Putra Wilwatikta (Pengawal Majapahit).

Jadi kegiatan ini bersifat silent atau diam-diam saja, yang penting makna dan nilainya kena. Tidak sekedar gebyar, pengerahan masa, hura-hura saja atau ramai-ramai tanpa makna dan isi yang berarti.

Mestinya seorang Nasionalis yang Pancasilais dihari lahirnya Pancasila, tidak sekedar share ucapan-ucapan dan konten kata-kata bijak terkait Pancasila via Facebook, WA, Instagram dll. Akan tetapi seharusnya mempraktekan, berbuat, melakukan kegiatan yang mewujudkan nilai-nilai Pancasila beserta butir-butirnya.

Kalau tadi dilihat dengan seksama saat prosesi formal kegiatan ini di kantor DPP Harimau Majapahit yaitu saat Menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dengan sikap patrap dan Pembacaan Teks Pancasila bagaimana ekspresi sakral dan penuh penjiwaan dari para Dharma. Putra Wilwatikta yang mengikuti kegiatan.

Lirik lagu Indonesia Raya meresap masuk kedalam jiwa raganya. Seolah lupa siapa dirinya, tak ada kelas dan level status sosial dirinya wong cilik atau Bangsawan. Yang ada hanya satu, bahwa dirinya adalah anak bangsa atau Dharma Putra Wilwatikta. Menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan Patrap maksudnya tidak seperti sikap biasanya dalam upacara. Tapi sikap tegak jari kanan menggenggam, tangan kanan di tempelkan di dada kiri.

Sila-sila Pancasila yang di baca tanpa teks, ruh-ruhnya, nilai-nilainya maupun energi positifnya masuk meresap ke jiwa dan raga para anggota Harimau, Dharma Putra Wilwatikta yang ikut dalam acara itu.

Jadilah mereka sebagai anak Bangsa yang Nasionalis dan Pancasilais sekaligus cinta tanah air yang kemudian mampu mewujudkan nilai-nilai luhur Bangsa dimaksud dalam praktek nyata, perbuatan nyata maupun kerja nyata dalam kehidupan sehari- hari dari nilai-nilai luhur Bangsa tersebut.

Kirab Pancasila dengan pasukan gulo klopo merupakan simbol membangkitkan kembali, mewujudkan kembali rasa cinta Tanah Air Anak Bangsa yang tampak sudah mengambang dan luntur.

Berdoa di Punden Mbah Darmo atau Mbah Darmi yang menurut cerita Rakyat sekitar dan kata Tokoh Imajiner, tak lain adalah Ruh Patih Gajah Mada yang tersohor dengan Sumpah Palapanya. Merupakan simbol Membangkitkan spirit Gajah Mada yang berani dan pemersatu Nusantara bagi para anggota Harimau Majapahit Dharma Putra Wilwatikta. Sehingga benar- benar mampu mengawal kebangkitan Majapahit serta Nilai-nilai Luhur Budaya Bangsa.

Pembacaan Ikrar Pancasila ikut menjadi simbol untuk menguatkan rasa cinta Tanah Air dan Bangsa.

Masih kata Mbah Jito. Mensucikan Garuda Pancasila dengan Air Sungai kromong yang jernih membawa Nilai mensucikan Pancasila/Ruwat Pancasila, simbol dari mensucikan kembali Pancasila dan mengembalikan lagi Kemurnian Pancasila dalam Jiwa anak Bangsa atau Dharma Putra Wilwatikta.

Pembacaan Puisi Nyayian Ibu Pertiwi oleh Mbah Jito, dan Prosesi menabur 10 000 bibit ikan di kali kromong dari berbagai jenis, Nila, lele dan lain-lain, merupakan simbol Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa. Sungai yang di antaranya Air Tanah wujud cinta Tanah Air. Ikan yang ditaburkan Simbol adanya Kehidupan yang ada di Nusantara menghidupi seluruh anak Bangsa, nyanyian Ibu Pertiwi dan tabur bibit ikan merupakan simbol sungkem Ibu Pertiwi.

Itiulah sebabnya seluruh rangkaian kegiatan di atas baik yang formal maupun seremonial diberi nama “Cinta Tanah Air sungken Ibu Pertiwi’.
(harie)

ARTIKEL TERKAIT

BERITA POPULER

AKURAT & TERPERCAYA